Sabtu, 12 Juni 2010

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS KARANGAN DESKRIPSI MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI DI KELAS V MIN JULI KABUPATEN BIREUEN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini dikenal dua macam cara berkomunikasi, yaitu komunikasi secara langsung dan komunikasi secara tidak langsung. Kegiatan berbicara dan mendengarkan (menyimak), merupakan komunikasi secara langsung antara dua orang atau lebih, sedangkan kegiatan menulis dan membaca merupakan komunikasi tidak langsung. Keterampilan menulis sebagai salah satu cara dari empat keterampilan berbahasa, mempunyai peranan yang penting didalam hidup kehidupan manusia. Karena tanpa memahami bahasa sangat susah untuk bergaul dalam kehidupan yang dijalani. Oleh sebab itu manusia dituntun untuk mencari ilmu supaya mudah dalam bergaul dan mengerti bahasa terutama dalam menulis, Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya. Seperti yang dikatakan oleh H.G. Tarigan (dalam Suriamiharja dkk. 1983) bahwa menulis ialah: menurunkan atau melukiskan lambing grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang – lambang grafik tersebut kalau mereka memehami bahasa dan gambar grafik tersebut. Dalam lingkungan sekolah pada dasarnya mengarang merupakan salah satu faktor yang paling penting guna untuk bisa menguraikan ide kedalam sebuah tulisan..

Mengarang pada perinsipnya adalah bercerita tentang sesuatu yang ada pada angan – angan penceritaan itu dapat dituangkan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Setiap manusia semuanya diciptakan sebagai pengarang agar mudah untuk mengaplikasikan kehidupan ini dengan benar.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang masih banyak terdapat kendala dalam pengaplikasiannya. Buktinya siswa kurang mampu menulis karangan serta rendahnya penguasaan bahasa tulis secara sempurna. Meraka tidak mampu menggunakan kata-kata yang sesuai dengan ketentuan dalam ejaan bahasa Indonesia dengan benar. Mereka belum mampu mengarang dengan benar tanpa ada hambatan. Metode yang digunakan dalam belajar mengarang sangat tidak menarik sehingga banyak siswa yang tak memahami tentang mengarang bahkan siswa merasa bosan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Dalam lingkungan bermasyarakat banyak siswa yang pandai berbicara atau berpidato, tetapi mereka masih kurang mampu menuangkan gagasanya kedalam bentuk bahasa tulisan yang benar dan mudah dimengerti oleh pembaca. Maka untuk bisa mengarang dengan baik, seseorang harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Kemampuan menulis dapat dicapai melalui proses belajar dan berlatih.

Permasalahan pun muncul seperti yang sudah penulis alami ketika melakukan observasi di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen. Dari hasil observasi itu penulis menemukan masalah, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan ketika dalam mengajarkan mengarang. Mengingat pentingnya kemampuan mengarang bagi siswa, maka penulis berusaha mengungkap seberapa peningkatan kemampuan mengarang melalui penggunaan media gambar seri. Untuk memperoleh informasi factual, penulis akan mengadakan suatu penelitian di sekolah MIN Juli dengan judul:

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS KARANGAN DESKRIPSI MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI DI KELAS V MIN JULI KABUPATEN BIREUEN.

1.2 Indentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi masalah yang dapat ditentukan adalah sebagai berikut:

1. Siwa kurang mampu menggunakan dan memilih kata dalam menuangkan buah pikirnya, sering mengulang kata “lalu” dan “terus”.

2. Isi kalimat relatif tidak menggambarkan topik.

3. Kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak sinambung, paragraf yang satu dengan paragraf yang lain tidak koheren.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang dan data awal yang diperoleh dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti dan untuk membatasi permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan permasalahan diatas, maka penulis merumuskan dalam bentuk pertanyaan, adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan penerapan media cerita gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen?

2. Apakah dengan menggunakan media cerita gambar seri dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam penulisan karangan deskripsi?

3. Masalah atau kendala yang dihadapi di lapangan ketika memberikan pembelajaran menulis kerangan deskripsi di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen?

1.4 Tujuan Penelitian

Dengan dilaksanakannya penelitian ini, bertujuan untuk:

1. Untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan media gambar seri di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen.

2. Untuk mengetahui keefektifan siswa dalam pengajaran penggunaan media Gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen.

3. Untuk Mengtahui pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gamabar seri dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang bagaimana cara mengarang dengan menggunakan media gambar seri di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen.

1.5 Manfaat Penelitiaan

1. Bagi Guru

Guru dapat memehami hal – hal yang perlu dilakukan untuk menyampaikan pembelajaran secara aktif dan dan menarik siswa dalam menyamapaikan materi sehingga siswanya mampu menyimak pelajaran yang sedang diajarkan dan apa yang diharapakan oleh guru dapat tercapai. Dalam penelitian ini dapat diambil manfaat bagi guru termasuk diantaranya guru dapat memperkaya teknik pembelajaran dan guru dapat mengetahui teknik pembelajaran dan guru dapat mengetahui teknik – teknik pembelajaran dan guru dapat mengetahui permasalahan - permasalahan siswa dengan cara – cara mengatasinya. Sehingga dapat mempermudah guru untuk mengatasi masalah – masalah apa yang timbul dlam pembelajaran.Guru menjadi aktif dan kereatif dalam mempelajarkan siswa dengan menggunakan media pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru mengetahui penggunaan alat evaluasi yang sesuai untuk mengukur keterampilan menulis karangan dengan baik.

2. Bagi Siswa

Siswa dapat lebih mudah dan semangat dalam memahami materi pelajaran. Dengan cara pembelajaran yang menarik, dan tidak akan membosankan siswa dalam menyimak pelajaran sehingga siswa akan menyimak pelajaran dengan baik. siswa akan lebih akatif belajara dan mereka bisa lebih mudah dalam memahami pelajaran,

3. Bagi Lembaga

Sekolah dapat lebih mudah dalam memperoleh alat peraga, penggunaan alat peraga disekolah pihak sekolah tidak harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menyediakan alat peraga, karena alat peraga bisa dibuat dari lingkungan sekitar dan dapat dari siswa itu sendiri. Serta alat peraga ini dapat disimpan untuk siswa – siswa tahun berikutnya.

.

1.6 Definisi operasional

1. Meningkatkan adalah Memberikan dorongan atau memberikan motivasi kepada anak tentang pembelajaran menulis karangan deskripsi.

2. Kemampuan adalah tingkat penguasaan, tingkat kemahiran, kompetensi siswa dalam menulis karangan deskripsi melalui media gambar berseri.

3. Siswa adalah murid atau pelajar, terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah.

4. Menulis adalah menempatkan simbol – simbol grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol – simbol grafiknya”.

5. Karangan adalah susunan kata yang berlapis-lapis dan teratur yang menggunakan bahasa yang teratur.

6. Media Cerita Gambar Seri adalah cerita atau daya upaya dalam menyusun atau menulis karangan dangan menerjemahkan isi pesan visual (gambar seri) kedalam wujud atau bentuk bahasa lain.

BAB II

LANDASAN TEORITIS

2.1 Pengertian Menulis

Menulis adalah menyampaikan ide atau gagasan dan pesan dengan menggunakan lambang grafik (tulisan). Tulisan adalah suatu system komunikasi manusia yang menggunakan tanda-tanda yang dapat dibaca atau dilihat dengan nyata. Tarigan (dalam Agus Suriamiaharja, 1996 : 1), mengembangkan bahwa :

“Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang – lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipakai oleh seseorang, sehinga orang lain dapat membaca lambang – lambanga grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut “.

Sedangkan Robert Lodo (dalam Suriamiaharja, 1996 : 1), mengatakan bahwa:

“Menulis adalah menempatkan simbol – simbol grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol – simbol grafiknya”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang – lambang grafik untuk menyampaikan ide atau gagasan yang dapat dimengerti oleh orang lain .

2.2 Karangan Deskripsi

Karangan adalah susunan kata yang berlapis-lapis dan teratur yang menggunakan bahasa yang teratur pula (Karsana 1986:4). Dalam hal ini, karangan juga mempunyai beberapa fungsi diantaranya yaitu karangan yang berfungsi memberitahu, karangan yang berfungsi memberi pemahaman, karangan yang berfungsi mengisahkan,karangan yang berfungsi menggambarkan, karangan yang berfungsi memberi petunjuk, karangan yang berfungsi instruktif (memerintahkan), karangan yang berfungsi untuk mengingat, karangan yang berfungsi untuk korespondensi, da sebagainya (Karsana 1986:17-24). Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca (Gie 2002:3). Unsur-unsur karangan menurut Gie (2002:4) ada empat, yaitu gagasan yang berupa pendapat, pengalaman, atau pengetahuan yang ada dalam pikiran seseorang, tuturan yang berbentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca, tatanan yaitu tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai asas dan aturan serta teknik sampai merencanakan rangka dan langkah, serta wahana yang berfungsi sebagai sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosa kata dan gramatika serta retorika.

Menurut Keraf (1995:7), deskripsi adalah menggambarkan atau menceritakan bagaimana bentuk atau wujud suatu barang atau objek, atau mendeskripsikan cita rasa suatu benda, hal, atau bunyi. Fungsi utama deskripsi adalah membuat para pembacanya melihat barang-barang atau objeknya, atau menyerap kualitas khas dari barang-barang itu. Deskripsi membuat kita melihat yaitu membuat visualisasi mengenai objeknya. Deskripsi memusatkan uraiannya pada penampilan barang. Dalam deskripsi kita melihat objek garapan secara hidup-hidup dan konkrit, melihat objek secara bulat. Deskripsi bertujuan membuat para pembaca menyadari dengan hidup-hidup tentang apa yang diserap penulis melalui panca indranya, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkannya, menyajikan suatu kualitas pengalaman langsung. Objek yang dideskripsikan mungkin sesuatu yang biasa ditangkap dengan pancaindera kita, sebuah pemandangan alam, jalan-jalan kota, wajah seorang yang cantik molek atau seseorang yang putus asa, alunan musik atau gelegar guntur, dan sebagainya(Keraf 1995:16-17).

Menurut Hartono (2003:37), deskripsi yaitu suatu bentuk komposisi yang digunakan sebagai sarana penulis atau pembicara menggambarkan atau menceritakan bagaimana bentuk atau wujud suatu barang atau objek, atau mendeskripsikan cita rasa suatu benda, hal atau bunyi. Deskripsi adalah lukisan yang menggambarkan rupa, suara, bau, atau rasa sesuatu. Deskripsi adalah karangan yang lebih kompak dan bertekstur dengan memilih detail-detail fisik dan emosional (Sudiati dkk. 2005:3-4).

Dari dua pengertian di atas, maka dihasilkan satu pengertian dari karangan deskripsi. Rustamaji (1991:71) mengatakan bahwa karangan deskripsi adalah jenis karangan yang bertujuan untuk menyodorkan gambaran mengenai suatu pokok persoalan, penggambaran sesuatu itu menurut apa adanya. Karangan deskripsi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri objek itu. Deskripsi memberi suatu citra mental mengenai sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang, atau sensasi (Keraf 1995:7).

2.2.1 Unsur Karang -Mengarang

Berbicara mengenai karangan baik yang berupa karangan pendek maupun panjang, maka kita harus berbicara mengenai beberapa hal atau masalah disekitar karangan. The Liang Gie (1992 : 17) mengemukakan ada 4 (empat) unsur dalam mengarang yaitu sebagai berikut :

1. Gagasan ( Idea )

Yaitu topik berikut tema yang diungkapkan secara tertulis.

2 Tuturan ( Discourse )

Yaitu bentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca. Ada 4 ( empat ) bentuk mengarang :

a. Pencarian (Narration )

Bentuk pengungkapan yang menyampaikan sesuatu peristiwa / pengalaman .

b. Pelukisan ( Description )

Bentuk pengungkapan yang menggambarkan pengindraan, perasaan mengarang tentang mecam – macam hal yang berada dalam susunan ruang ( misalnya : pemandangan indah, lagu merdu, dll )

c. Pemaparan ( Exposition )

Bentuk pengungkapan yang meyajikan secara fakta – fakta yang bermaksud memeberi penjelasan kepada pembaca mengenai suatu ide, persoalan, proses atau peralatan.

d. Perbincangan ( Argumentation )

Bentuk pengungkapan dengan maksud menyalin pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai dengan yang dihadapi pengrang.

3. Tatanan ( Organization ) Yaitu tertib pengaturan dan peyusunan gagasan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah .

4. Wahana (Meduim ) Ialah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosa kata, gramatika ( tata bahasa ), dan terotika ( seni memekai bahasa secara efektif )

2.2.2Tujuan Pengajaran Mengarang

Sabarti Akhadiah, Dr. Prof (1996 / 1997) mengemukakan bahwa tujuan pengajaran mengarang sama dengan tujuan pengajaran bercakap – cakap hanya berbeda dengan bentuk tulisan, yaitu :

1. Memperkaya pembendaharaan bahasa positif dan aktif

2. Melatih melahirkan pikiran dan perasaan dengan tepat

3. Latihan memaparkan pengalaman – pengalaman dengan tepat.

4. Latihan – latihan penggunaan ejaan yang tepat (ingin menguasai bentuk bahasa).

2.2.3 Macam – Macam Karangan di MIN

Macam – macam karangan yang dapat diajarkan di MIN dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Menurut Tingkatan

1. Karangan permulaan (Kelas I dan II )

2. Karangan sebenarnya (Karangan lanjutan ) di kelas – kelas berikutnya.

b. Menurut Isi / Bentuk

1. Karangan Varslag (Laporan), Umumnya diberikan di kelas – kelas rendah Misalnya: Menceritakan kembali (secara tertulis) apa – apa yang dialami dalam pengajaran lingkungan.

2. Karangan Fantasi, Mengeluarkan isi jiwa sendiri (Ekspresi jiwa), Misalnya: “Cita – citaku setelah tamat sekolah”. “Seandainya aku menjadi presiden”.

3. Karangan Reproduksi, Umumnya bersipat menceritakan / menguraikan suatau perkataan yang telah di pelajari atau di pahami, seperti mengenal ilmu – ilmu bumi, ilmu hayat, atau menulis dengan kata – kata sendiri apa yang telah di baca dll.

4. Karangan Argumentasi, Karangan berdasarkan alasan tertentu. Siswa dibiasakan menyatakan pendapat ataupun pikiranya berdasarkan alasan yang tepat.

c. Menurut Susunanya

1. Karangan Terikat

2. Karangan Bebas

3. Karangan setengah bebes terikat Sabarti Akhadiah, Dr. Prof (1997:59).

Pendapat lama mengtakan mengajar mengarang itu baru diberikan di kelas V sekolah rendah, karena syarat – syarat yang ditentukan untuk mengarang itu adalah berat. Seperti ejaan bahasa, susunan kalimat, isi, tanda baca, dan sebagainya. Sementara itu pendapat sekarang, “ Mengarang “ itu semenjak di kelas I (Satu) sudah mulia disisipkan (Mengarang Permulaan). Di kelas I (Satu) sudah dapat di mulai dengan menggambar bebas kemudian anak menulis beberapa kalimat tentang gambarnya. Di kelas III (Tiga) adalah lanjutan dari kegiatan di atas. Cerita tentang gambar telah memakai judul, kalimat lebih banyak pada saat menceritakan tentang benda, hewan atau tanaman yang sesuai dengan lingkungan, anak telah menjelaskan sesuatu tentang benda. Mengarang dengan bentuk gambar seri telah lebih banyak kalimatnya daripada di kelas II (dua) biasanya anak menggunakan kata penghubung. Di kelas V (lima) karangan anak lebih luas dari peda kelas III (tiga). Anak dibiasakan mengamati lingkungan sekitarnya (Pasar, kebun, taman, Tempat pertunjukan dll) lebih rinci sehinga siswa kelas V (lima) telah dapat menuliskan berpulih – pulih kalimat tentang sesuatu. Pada saat menceritakan gambar berseri, siswa kelas V (lima) lebih rinci menjelaskan setiap gambar. Pengamatan gambar lebih rinci. Mulailah anak, menentukan pokok pikiran yang mungkin akan menjadi karangan – karangan. Hal ini lebih mudah dilatihkan melalui mengarang dengan bentuk gambar seri (Sabarti Akhadiah, Dr. Prof (1997:59).

2.2.5 Susunan Karangan

Susunan karangan atau wacana sebagaimana dikemukakan oleh Hatimah, Ihat dkk. (2006 : 159) adalah :

“ Wacana dibentuk oleh paragraf – paragraf, sedangkan paragraf dibentuk oleh kalimat – kalimat. Kalimat – kalimat yang membentuk palagraf itu haruslah merangkai, kalimat yang satu dengan kalimat berikutnya harus berkaitan begitu seterusnya. Sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh atau membentuk sebuah gagasan. Selanjutnya paragraf dengan paragraf pun merangkai secara utuh membentuk sebuah wacana yang memiliki tema yang utuh “.

a. Kata

Setiap gagasan pikiran atau perasaan dituliskan dalam kata – kata. Kata adalah unsur kata yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat di gunakan dalam bahasa. Untuk dapat menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaan dalam tulisan karangan. Seorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memedai dan pemilihan kata yang tepat. “Dalam memilih kata itu harus diberikan dua persyaratan pokok yaitu (1) Ketepatan (2) Kesesuaian” (Suriamiharja et – al, 1996: 25). Persyaratan ketepatan yaitu kata – kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin di ungkapkan sehingga pembaca juga dapat menafsirkan kata – kata tersebut tepat seperti maksud penulis. Persyaratan kedua yaitu kesesuaian. Hal ini menyangkut kecocokan antara kata – kata yang dipakia dengan kesempatan / situasi dengan keadaan pembaca. Apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak merupakan suasana atau tidak menyinggung perasaan orang yang hadir.di angka dari www.sastraindo.com.

b. Kalimat

Kalimat terbentuk dari gabungan anak kalimat, sedangkan anak kalimat adalah gabungan dari ungkapan atau frase, dan ungkapan itu sendiri merupakan rangkaina dari kata – kata.

Kalimat yang dipergunakan dalam karangan berupa kalimat yang efektif yaitu kalimat yang benar dan jelas sehinga mudah dipahami orang lain. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiranpandangan atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembaca. Suryamiharja et-al (1996 : 38), Mangemukakan bahwa : Kaliamat efektif dalam bahasa tulis, haruslah memiliki unsur – unsur :

1. Dapat mewakili gagasan penulis

2. Sanggup menciptakan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca seperti yang dipikirkan penulis.

c. Paragraf

Paragraf adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari pada kalimat : paragraf merupakan kimpulan kalimat yang berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan, Berkaitan dengan paragraf akhadiah, dkk (dalam Agus Suryamiharja, 1996 : 46), Menjelaskan bahwa “dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sapai kalimat penutup”. Fungsi dari paragraf dalam karangan adalah:

1. Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide keseluruhan karangan.

2. Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok karangan. (Tarigan, 1996:48).

Menurut Suriamuharja (1996: 48) “Paragraf baik dan efektif harus memenuhi tiga parsyaratan, yaitu (1) Kohesi (Kesatuan ) ; (2) Koherensi (Kepaduan) ; dan (3) Pengembangan / Kelengkapan paragr

1. Kohesi (Kesatuan)

Keraf (dalam Suriamiharja 1996: 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksud dengan kohesi / kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina palagraf secara bersama – sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu”.

2. Koherensi (Kepaduan)

Keraf (Suriamiharja 1996: 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksed dengan koherensi / keterpaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antar sebuah kalimat denngan kalimat yang lain yang membentuk paragraf itu”.

3. Pengembangan / Kelengkapan paragraf

Keraf (dalam Suryamiharja 1966:50), mengemukakan bahwa “pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan – gagasan yang membina peragraf itu”, Suatu paragraf dikatakan berkembang atau lengkap jika kalimat topik atau kalimat utama dikembangkan atau dijelaskan dengan cara menjabarkannya dalam bentuk – bentuk kongkrit, dapat dengan cara pemaparan dan pemberian contoh, penganalisaan dan nilai – nilai. aph”.

2.3 Pengertian Media Pembelajaran

Kata “Media” secara harpiah adalah “perantara atau pengantar”. Pengertian media sebagai sumber belajar adalah “Manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan” (Djamarah dan Zein, 1996 : 136). Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangat penting. Ketidak jelasan guru dalam menyampaikan bahan pengajaran dapat terwakili dengan kehadiran media. Apabila tingkatan MIN yang siswanya belum mampu berfikir abstrak, masih berfikir kongrit. Keabstrakan bahan pelajaran dapat dikongritkan dengan kehadiran media, sehinga anak didik lebih mudah mencerna bahan pelajaran daripada tanpa bantuan media. Dalam penggunaan media, perlu diperhatikan bahwa pemilihan media pengajaran haruslah jelas dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan., apabila diabadikan media pengajaran bukanya membantu proses belajar mengajar, tapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efesien. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, membantu mempertegas bahan pelajaran, sehingaga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dalam proses belajar.

2.3.1 Fungsi Peranan Media Pengajaran

Fungsi media pengajaran sebagai sumber belajar, Nana Sudjana (dalam Djamarah, 1996: 152 ), Merumuskan fungsi media sebagai berikut :

1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat Bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif

2. Penggunana media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.

3. Media pengajaran, penggunaannya dengan tujuan dari sisi pelajaran .

4. Penggunaan media bukan semata – mata alat hiburan, bukan sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.

5. Penggunaan media dalam pengajaran lebih dituangkan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap perhatian yang diberikan guru.

6. Pengunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

Ketika fungsi – fungsi media pengajaran itu diaplikasikan kedalam proses belajar mengajar , maka terlihatlah perannya sebagai berikut :

a. Media yang digunakan guru sebagai penjelas dari keterangan terhadap suatu bahan yang guru sampaikan.

b. Media dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya.

c. Media sebagai sumber belajar bagi siswa. Di angkat dari www.blogspot.com.

2.3.2 Kriteria Pemilihan Media Pengajaran

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (dalam Djamarah dan Zein, 1996 : 150), mengemukakan beberapa kriteria dalam memilih media pelajaran, sebagai berikut:

a. Ketepatan dengan tujuan pengajaran.

b. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran. Adanya media bahan pelajaran lebih mudah dipahami siswa.

c. Media yang digunakan mudah diperoleh, mirah, sederhan dan praktis penggunaannya.

d. Keterampilan guru dalam menggunakan media dalam proses pengajaran.

e. Tersedia waktu untuk menggunakanya, sehinga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.

f. Sesuai dengan tarap berpikir siswa.

2.4 Media Cerita Gambar Seri Sebagai Model Pembelajaran

Dalam kriteria pemilihan media disinggung bahwa media digunakan harus sesuai dengan taraf berfikir anak didik. Demikian pula dalam pembelajaran menulis karangan di SD. Penggunaan media gambar seri dirasakan sangat tepat untuk membantu siswa dalam keterampilan mengarang. Dengan melihat gambar, siswa dapat menarik isi kesimpulan dari gambar tersebut, kemudian dapat menguraikan dalam bentuk tulisan. Berkaitan dengan penggunaan media gambar, Purwanto dan Alim (1997 : 63), mengemukakan bahwa “Penggunaan media gambar untuk melatih anak menentukan pokok pikiran yang mingkin akan menjadi karangan – karangan”, juga Tarigan (1997 : 210) mengemukakan bahwa “Mengarang melalui media gambar seri berarti melatih dan mempertajam daya imajinasi siswa”. Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa cerita gambar seri adalah cara atau daya upaya dalam menyusun atau menulis suatu tulisan atau karangan dengan menerjemahkan isi pesan visual (gambar seri) ke dalam bentuk tulisan.di angkat dari http://eprints.Ums.Ac.Id/364/01/19._subyantoro.pdf

2.5 Ciri – Ciri Gambar Yang Baik dan Peranannya Sebagai Media Pengajar

Gambar yang baik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar adalah yang memiliki ciri – ciri sebagaimana dikemukakan Sudirman et-al (1991: 219), yaitu :

1. Dapat menyampaikan pesan atau ide tertentu.

2. Memberi kesan kuat dan menarik perhatian.

3. Merangsang orang yana melihat untuk ingin mengungkapkan tentang obyek – obyek dalam gambar.

4. Berani dan dinamis.

5. Ilustrasi tidak terlalu banyak, tetapi menarik dan mudah dipahami.

Sedangkan peranan gambar sebagai media pengajaran yaitu :

1. Dapat membantu guru dalam menyampaikan pelajaran dan membantu siswa dalam belajar.

2. Menarik perhatian anak sehinga terdorong untuk lebih giat belajar.

3. Dapat membantu daya ingat siswa (retensi)

4. Dapat disimpulkan dan digunakan lagi apabila diperlukan pada saat yang lain. (Sudirman et-al 1991 : 220)

Atas dasar uraian tersebut diatas, hendaknya guru mau mempertimbangkan penggunaan media gambar seri didalam pelaksanaan proses belajar mengajar terutama dalam pengajaran menulis karangan. Karena dengan gambar dapat merangsang imajinasi seorang siswa supaya suka bercerita tentang gambar yang dilihatnya sehingga selanjutnya diharapkan siswa tersebut dapat mampu menulis karangan sesuai dengan tema, ide, pengalaman dan kejadianya. Diangkat dari http://www.realonearcade.com.

2.6 Hakikat Pengajaran Menulis Karangan Deskripsi

Seseorang dapat dikatakan telah mampu menulis dengan baik jika dia dapat mengungkapkan maksudnya dengan jelas, sehingga orang lain dapat memahami apa yang diungkapkannya. Untuk menjadi seorang penulis yang baik, terlebih dahulu penulis harus menentukan maksud dan tujuan penulisannya, agar pembaca memahami ke mana arah tujuan penulisan itu sendiri (Suriamiharja 1996 :3).

Dalam kaitannya dengan pengajaran menulis karangan, penelitian ini bertujuan agar siswa mampu menghasilkan karangan yang terdiri atas ratusan kata dengan hasil yang baik. Siswa mampu menyusun kalimat, menyusun paragraf dan akhirnya menyusun wacana sesuai dengan aturan penulisan yang berlaku. Adapun karangan yang diajarkan kepada siswa adalah karangan deskripsi. Melalui pengajaran menulis karangan deskripsi, siswa diharapkan memiliki kegemaran menulis untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya.

Melalui pengajaran menulis karangan deskripsi, siswa diharapkan memiliki kegemaran menulis untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya. Dengan bekal yang cukup siswa akan dapat menuangkan gagasan dan perasaannnya serta menyukai kegiatan menulis seperti menyusun karangan deskripsi.

BAB II

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitin tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa yang berkaitan proses pembelajaran dikelas, khususnya dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan melalui gambar berseri di MIN Juli Kabupaten Bireuen.

Menurut Suharsimi Arikunto, dkk, (2007:3), penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama-sama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru yang dilakukan oleh siswa.

Menurut Kassihani Hasbolah (1998:13), penelitian tindakan kelas merupakan salah satu upaya guru dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan minat belajar siswa dikelas. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan tugas guru dilapangan. Artinya, penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan dikelas dan bertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran yang ada.

Berdasarkan beberapa difenisi oleh para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian tindakan kelas adalah segala daya dan upaya yang dilakukan oleh seorang guru berupa kegiatan penelitian tindakan atau arahan dengan tujuan dapat memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran yang selayaknya.

3.2 Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian tindakan kelas peneliti sebagai subjek dan siswa sebagai objek yang diteliti. Dalam meneliti sebuah permasalahan yang timbul Kehadiran peneliti dilokasi sangat diutamakan, dikarenakan peneliti sebagai salah satu kunci utama dalam memberikan tindakan sesuai prosedur yang ada, kehadiran peneliti dalam penelitian tindakan kelas modal utamanya yaitu untuk mewawancarai siswa,dan guru bidang studi dan peneliti sebagai pengamat dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian ini mengunakan penelitian yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas.

3.3 Lokasi Penelitian

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penulis mengangkat judul “meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan melalui penggunaan media gambar seri di kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen.

Secara geografis lokasi sekola berada daerah Kecamatan Juli yang merupakan ibukota Kabupaten bireuen. Sekolah terletak di tepi jalan raya bireuen-takengon (Kec. Juli) tepatnya kilometer 08.

Penulis akan mengadakan penelitian pada kelas yang diampunya, yaitu kelas V semester I tahun pelajaran 2010/2011 MIN Juli Kabupaten Bireuen. Keadaan status ekonomi siswa sangat beragam, yang sebagaian besar orang tua siswa bermata pencaharian buruh tani. Jumlah siswa kelas V 30 anak. Terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Penelitian merencanakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan media pembelajaran Media Gambar Seri di kelas V miN juli Kabupaten bireuen menyelesaikan pembelajaran mengarang tentang mengarang dengan menggunakan media gamabar seri, akan dilaksanakan pada semester I untuk tahun pembelajaran 2010 / 2011 diawalai dengan pembuatan proposal berdasarkan hasil observasi dilapangan yang dimulai pada awal maret 2010.

3.4 Data dan Sumber Data

1 Data.

Diperoleh dari :

a. Tes akhir pembelajaran.

b. Observasi proses pembelajaran.

c. Interview setelah proses pembelajaran.

d. Lembar pengamatan terhadap siswa pada masing-masing siklus.

e. Lembar pengamatan terhadap guru tiap siklus dari teman sejawat sebagai kolaborasi dalam penelitian.

2. Sumber Data

a. Hasil pengamatan terhadap guru yang diperoleh dari observer yaitu rekan kerja.

b. Hasil tes tertulis siswa kelas V MIN Juli Kabupaten Bireuen.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Penulis menggunakan tiga alat pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi dan tes perbuatan (performance) yang digunakan selama penelitian masalah dalam makalah ini dan mendiagnosa serta mengevaluasi dari model yang digunakan. Berikut ini penjelasanya :

1. Wawancara

Wawancara yaitu suatu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapat informasi yang berkenaan dengan pendapat, aspirasi, apersepsi, dan keyakinan dari individu atau responden. Wawancara ini dilakukan dengan cara mengadakan Tanya jawab secara langsung dengan sumber data.

2. Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik evaluasi non tes yang biasa dilakukan kapan saja. “Obsevasi adalah teknik atau cara untuk mengamati suatu keadaan atau suatu kagiatan (tingkah laku)”.

Penulis menggunakan teknik observasi ini untuk mengamati keadaan siswa sebelum, sedang, dan sesudah model pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan media gambar seri.

3. Tes Perbuatan

Tes perbuatan (performance) dimaksudkan untuk mengukur keterampilan dalam melakukan sesuatu (Rachmat dan Suhendi, 1998 : 113). Alat pengukurannya menggunakan pedoman penilaian atau format observasi. Tes perbuatan ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana siswa dapat menulis karangan dengan baik dengan menggunakan media gambar seri.

3.6 Teknik Analisis Data

Jenis data yang dipergunakan adalah jenis data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dengan cara menghitung nilai siswa secara keseluruhan dan merekap nilai tes. Kemudian menghitung rata-rata nilai yang diperoleh. Berikut rumus presentase nilai.

NP = 100%

Keterangan :

NP = Nilai dalam persen

R = Skor yang dicapai siswa

JS = Jumlah keseluruhan siswa

(Arikunto, 2002: 263)

Data kualitatif diperoleh dari mendeskripsikan dan mengelompokkan data yang diperoleh dari pengamatan dan wawancara. Semua data diambil melalui tes. Pendiskripsian untuk mengungkap semua perubahan tindakan dan peningkatan prilaku siswa selama proses belajar mengajar pada siklus I dan siklus II yang akan.

3.7 Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menghindari dari kesalahan atau kekeliruan data yang terkumpul dari hasil tindakan yang dilakukan dalam penelitian, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data dengan mendetail. Pengecekan keabsahan data yang didasarkan pada sesuatu diluar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada (Moleong, 2007).

3.8 Tahap-Tahap Penelitian

Dalam penelitian ini akan dilakukan dua siklus.

1. Proses Pelaksanaan Siklus I

a. Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini peneliti akan mempersiapkan (1) satuan pelajaran, (2) rancangan tindakan dalam bentuk rencana pembelajaran, (3) rencana evaluasi yang meliputi tes dan nontes.

b. Tindakan

Pada tahap tindakan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang akan dilakukan. Pada saat proses pembelajaran menulis karangan berlangsung, siswa diberi sebuah materi mengarang yang harus karang oleh siswa. Kemudian hasilnya dibahas bersama-sama. Setelah itu karangan yang dibuat dalam bentuk cerita. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca isi karangan siswa secara bergiliran. Siswa yang lain memperhatikan, apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh temannya, maka mereka harus memberikan koreksi terhadap temannya yang melakukan kesalahan.

c. Pengamatan

Tahap pengamatan dilakukan dalam proses belajar mengajar berlangsung, pengamatan dapat dilakukan dengan observasi atau pengamatan secara langsung, atau dengan wawancara. Pengambilan data dengan observasi bertujuan untuk dapat secara langsung mengamati semua perilaku siswa baik yang positif maupun negatif selama proses belajar mengajar berlangsung dikelas.

d. Evaluasi dan Refleksi

Berdasarkan observasi dan wawancara pada tahap ini dijadikan sebagai pedoman. Dari situasi tersebut dapat dipakai untuk pembenahan dan perbaikan pada tahap selanjutnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu proses belajar mengajar pada tiap-tiap tahapan, misalnya ada beberapa siswa yang saling berebut alat tulis, berpindah tempat duduk, dan menyepelekan penggunaan media gambar berseri yang dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Oleh karena itu pada tahap ini akan diambil tindakan untuk meningkatkan pengelolaan kelas dengan jalan menegur mereka yang sering membuat keributan. Dengan kata lain pengamatan lebih intensif pada siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar